Monday, June 1, 2009
Confidence and Ready to Action
Overconfidence bisa menjadi hal yang berbahaya bagi seorang trader. Jika anda tidak memanage risiko dan keluar dari trading plan, anda mungkin akan mengeksekusi trade yang akhirnya menjadi bencana bagi anda. Memang benar adanya bahwa dalam mengambil keputusan untuk mengeksekusi sebuah trade anda harus memiliki kepercayaan diri. Tapi seorang profitable trader dapat menyeimbangkan dirinya di tengah overconfidence dan low confidence. Jika anda sudah membuat sebuah trading plan yang sangat baik, tapi tetap kurang percaya diri untuk menjalankannya, maka yang anda butuhkan adalah sebuah dorongan untuk memompa kepercayaan diri anda.
Beberapa trader memiliki masalah untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan dirinya. Mereka sudah melakukan semua tugasnya, termasuk memperhitungkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, tapi tetap saja kesulitan untuk mengeksekusi tradenya. Jika hal seperti ini terjadi pada anda, mungkin dibutuhkan perubahan yang cukup drastis untuk diri anda.
Jika anda sedang tidak percaya diri, cobalah untuk mengingat kembali keberhasilan-keberhasilan yang telah anda lakukan. Tidak harus dalam trading. Bisa saja keberhasilan dalam kehidupan sehari-hari anda. Atau kemenangan memperoleh profit terbesar yang pernah anda alami yang membuktikan bakat dan skill anda dalam trading. Apapun itu, akan sangat membantu sekali berpikir seperti itu ketika anda sedang down dan tidak percaya dri.
Mungkin akan membantu juga untuk berpura-pura bahwa anda sedang akan mengexecute sebuah trade yang akan memberikan anda kemenangan besar. Tapi anda harus menggunakan metode ini dengan hati-hati. Anda tidak boleh berpura-pura seperti ini jika trading plan dan risk management anda belum cukup baik. Tapi jika trading plan dan pengaturan risiko anda sudah baik, maka akan membantu sekali untuk berfantasi seperti ini untuk meningkatkan kepercayaan diri anda.
Fantasi seperti ini memang berguna untuk menyingkirkan kepercayaan diri yang rendah. Anda boleh saja berfantasi akan mendapatkan sebuah Ferrari atau hal lain yang sangat anda inginkan, untuk memompa kepercayaan diri anda dalam trading yang akan anda lakukan.
Jangan lupakan juga aktifitas fisik. Olahraga dapat mengaktifkan bagian-bagian otak yang berfungsi untuk menumbuhkan optimisme dan energi psikologis. Musik yang anda dengarkan ketika anda sedang melakukan trading juga bisa memberikan pengaruh yang signifikan. Sedikit bernyanyi dan bersenandung bisa memberikan anda rasa relaks, bersemangat dan ready to action.
Jadi, ketika anda sudah melakukan semua tugas anda sebagai trader tetapi tidak cukup memiliki kepercayaan diri untuk mengeksekusi trading anda, cobalah cara-cara tersebut. Mudah-mudahan mampu memberikan kepercayaan diri yang anda butuhkan untuk menjalankan trade yang sudah anda rencanakan. Selamat trading dan sukses beserta anda.
Big Trade, Big Moment
Ketika market bergerak berlawanan dengan trading anda, dibutuhkan mental yang layak. Penting sekali untuk meminimalisir tekanan psikologis yang timbul, dan cara yang paling tepat untuk meminimalisirnya adalah dengan meminimalisir risiko yang berarti menggunakan persentase modal yang relatif kecil dan penentuan batas risiko yang jelas. Seorang trader seharusnya menjadi bijak dengan menganut prinsip take it slow and easy. Jangan merisikokan terlalu banyak dan tetap tenang.
Ketika anda memutuskan untuk melakukan sebuah big trade, anda harus sudah siap dan merencanakannya terlebih dahulu. Idealnya, kondisi fisik dan lingkungan sekitar anda sudah mendukung anda untuk beraksi. Jangan meremehkan tidur dan makan yang cukup. Hindari kafein. Kafein memang bisa memberikan anda energi, tapi juga bisa mengganggu anda untuk berpikir jernih. Dibutuhkan energi yang besar tapi juga anda tetap bisa tenang dan relaks.
Dalam melakukan big trade, dibutuhkan momen terbaik yang anda miliki, sebuah peak performance moment. Dan biasanya momen seperti itu akan muncul ketika anda sudah memahami dan menerima keterbatasan-keterbatasan yang anda miliki. Jangan menaruh harapan anda di tempat yang tinggi dan anda tahu anda tidak bisa menjangkaunya. Jangan buat diri anda gagal karena harapan yang terlalu besar. Untuk trading dalam kondisi puncak seperti itu, anda harus cukup beristirahat, fokus dan memiliki energi ekstra yang dibutuhkan untuk mengkapitalisasi kesempatan yang ditawarkan oleh market.
Perilaku Investasi
Apakah benar, ketika seseorang berinvestasi tujuannya memupuk kekayaan sebagaimana kerap dipromosikan lembaga atau institusi yang menjual produk keuangan? Jawabannya tidak. Pemupukan kekayaan hanyalah salah satu dari banyak tujuan investasi. Jadi, ketika tujuan investasi sudah tidak jelas, jangan heran jika banyak investor menuai kegagalan dalam investasinya. Dus, sebelum melakukan dan memilih alat investasi, pastikan dulu tujuan investasi Anda dan kemudian sesuaikan dengan perilaku investasi ketika memilih alat berinvestasi.
Secara konsep, paling tidak ada empat tujuan investasi. Pertama, melindungi modal dan aset dari inflasi. Kedua, memperoleh pendapatan rutin untuk membiayai keseharian. Ketiga, membangun kekayaan dan meningkatkan aset yang telah dimiliki. Keempat, spekulasi dalam rangka mendapatkan keuntungan besar.
Jika dilihat sepintas, tampaknya keempat tujuan investasi tersebut sama saja. Atau sering kali semuanya menjadi tujuan seorang investor. Apakah memang demikian? Jelas tidak. Lihat tujuan pertama: memproteksi aset dan modal dari jeratan inflasi. Tujuan ini biasanya hanya dimiliki kalangan yang telah mencapai kemapanan finansial. Artinya, investasi bukan lagi untuk memupuk kekayaan. Pilihan investasinya lebih yang berisiko rendah. Misalnya, dana hanya ditempatkan di deposito berjangka atau
Beda dengan kalangan yang berinvestasi untuk memperoleh pendapatan rutin dalam rangka membiayai belanja harian. Menempatkan dana dalam bentuk deposito berjangka saja jelas tidak mencukupi. Karena itu, pilihan investasinya pun mesti lebih beragam. Sebutlah menempatkan dana dalam bentuk obligasi pemerintah, BUMN, atau swasta yang imbal hasilnya lebih tinggi daripada deposito berjangka. Bisa juga menempatkan sebagian dana dalam bentuk saham yang fundamentalnya bagus sehingga mampu rutin membayar dividen rutin. Atau menempatkan dana langsung ke sektor riil, misalnya membeli rumah toko yang kemudian disewakan. Jadi, intinya, investasi yang dilakukan diharapkan bisa memberi pendapatan rutin cukup besar dibandingkan deposito berjangka.
Tujuan ketiga: memupuk kekayaan, dimana hasil investasi diharapkan bisa lebih besar ketimbang tujuan kedua. Dalam model ini, dana yang diinvestasikan belum akan dinikmati dalam jangka pendek. Misalnya, dana ditempatkan di deposito berjangka, maka bunganya akan ditambahkan ke dalam pokok pinjaman untuk didepositokan kembali. Lalu, ketika membeli saham dan mendapat dividen dan gain, akan diinvestasikan lagi untuk membeli saham lain bersama pokoknya. Jika pola ini dilakukan dalam kurun waktu cukup lama, katakanlah 10 tahun, maka jumlah aset dan modal Anda akan berlipat ganda. Namun, pola investasi seperti ini hanya bisa dilakukan oleh kalangan yang untuk biaya sehari-harinya sudah memiliki dari sumber lain.
Yang terakhir, investasi sudah bersifat spekulatif. Mereka dalam golongan selalu mencari jenis investasi yang berani memberikan imbalan hasil sangat tinggi dan terkadang tidak masuk akal. Kita pernah mendengar kisah Qisar dan Maddof di mana pihak penggalang dana menggunakan skema ponzi alias piramida uang. Jika Anda termasuk pihak yang masuk pada awal dan segera keluar, maka Anda beruntung. Tetapi, jika Anda masuk belakangan, maka besar kemungkinan dana Anda sudah raib diberikan kepada pihak yang lebih dulu masuk sebelum Anda. Investasi bersifat spekulatif juga kerap terjadi di pasar modal. Saham-saham tertentu yang tidak memiliki fundamental bagus “digoreng” sedemikian rupa sehingga harganya meningkat. Jika Anda tergiur, Anda akan ikut membeli. Pada saat yang sama, pihak “penggoreng” telah mengambil keuntungan dengan menjual kembali saham tadi.